Direksi WIKA menyampaikan bahwa perusahaan menanggung rugi sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun setiap tahun. Kerugian ini muncul karena beban bunga dan kewajiban finansial yang besar dari proyek Whoosh. PT Wijaya Karya Tbk harus tetap memenuhi kewajiban meski pendapatan proyek belum mampu menutup beban tersebut.
Proyek Whoosh sendiri melibatkan sejumlah BUMN dalam pembiayaan dan operasionalnya. Selain WIKA, beberapa perusahaan negara lain juga ikut menanggung beban finansial proyek ini. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa risiko proyek tidak hanya ditanggung satu pihak, melainkan tersebar ke berbagai entitas yang terlibat.
Manajemen menilai skema pembiayaan awal proyek belum sepenuhnya mempertimbangkan dinamika ekonomi global. Kenaikan biaya konstruksi dan perubahan kondisi pasar turut memperbesar tekanan terhadap perusahaan. WIKA kini harus mencari strategi untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah beban utang yang besar.
Perusahaan juga mendorong adanya restrukturisasi utang agar beban tahunan dapat berkurang. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan ke depan. Selain itu, efisiensi operasional terus dilakukan untuk menekan potensi kerugian yang lebih besar.
Proyek Whoosh tetap menjadi proyek strategis nasional yang memiliki nilai penting bagi konektivitas transportasi di Indonesia. Namun, kondisi keuangan yang dialami WIKA menunjukkan bahwa proyek besar membutuhkan perencanaan finansial yang matang dan berkelanjutan. Evaluasi menyeluruh terhadap model pembiayaan menjadi kunci agar proyek serupa di masa depan tidak memberikan tekanan besar bagi BUMN pelaksana.
Ke depan, pemerintah dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat menemukan solusi terbaik. Sinergi antar lembaga menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan kesehatan keuangan perusahaan negara.