Megasuara.com – Jakarta, Pemerintah Indonesia mengkaji kebijakan baru terkait ekspor timah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan rencana tersebut muncul setelah keberhasilan menambah nilai ekspor hasil olahan nikel. Kebijakan ini bertujuan memperkuat industri dalam negeri dan mendorong hilirisasi mineral.
Bahlil menyampaikan bahwa pelarangan ekspor barang mentah akan menjadi fokus pemerintah. Ia menilai, selama ini Indonesia masih banyak mengirim sumber daya alam ke luar negeri dalam bentuk mentah. Kebijakan ini akan memberikan peluang bagi industri dalam negeri tumbuh dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Mengirim bahan mentah ke luar negeri hanya menambah nilai bagi negara lain. Kita bisa ubah itu dengan hilirisasi. Ekspor mentah harus berhenti,” ujar Bahlil saat acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta.
Pelajaran dari Nikel
Bahlil mencontohkan keberhasilan pembatasan ekspor bijih nikel sebagai pelajaran penting. Ia menyatakan nilai ekspor nikel olahan meningkat besar sejak kebijakan itu berlaku. Menurut catatan pemerintah, total ekspor nikel Indonesia melonjak berkali lipat setelah pelarangan ekspor bahan mentah.
“Dulu kita hanya ekspor bijih. Sekarang kita ekspor produk bernilai lebih tinggi. Ini yang harus kita kembangkan pada timah,” ujarnya.
Dorong Investor Masuk
Untuk mendukung rencana ini, Bahlil mengajak pelaku usaha dan investor nasional membangun fasilitas pengolahan timah dalam negeri. Ia menilai pembangunan pabrik hilirisasi akan membuka peluang investasi besar dan memperluas basis industri dalam negeri.
Pemerintah juga mengundang perbankan untuk ikut serta dalam pembiayaan proyek strategis ini. Bahlil menilai peran lembaga keuangan sangat penting untuk meningkatkan kapasitas industri pengolahan mineral di tanah air.
Proyek Strategis Nasional
Selain timah, Bahlil menyebut Pemerintah telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional pada tahun 2026. Proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis, antara lain pengolahan bauksit, nikel, gasifikasi batu bara, dan kilang minyak.
Proyek hilirisasi diharapkan tidak hanya memberi nilai tambah ekonomi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku industri. Bahlil menyatakan hasil olahan ini dapat menggantikan barang impor dan memperkuat kemandirian industri nasional.
Arah Kebijakan ke Depan
Rencana penghentian ekspor timah masih dalam tahap kajian dan belum diputuskan secara resmi. Namun, langkah ini menunjukkan fokus pemerintah untuk membangun ekosistem industri yang lebih berdaya saing. Bahlil yakin hilirisasi akan memperkuat perekonomian Indonesia dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Pemerintah menilai bahwa peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini diharapkan mampu membuka peluang baru dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.















