Scroll untuk baca artikel
Example floating
Nasional

Bumi Etam Pacu Swasembada Beras

17
×

Bumi Etam Pacu Swasembada Beras

Sebarkan artikel ini

Bumi Etam Pacu Swasembada Beras

Bumi Etam Pacu Swasembada Beras

Megasuar.com – Jakarta, Di balik bentang alam Kalimantan Timur yang selama ini identik dengan industri energi dan pertambangan batu bara, muncul optimisme baru dalam sektor pertanian. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mendorong pengembangan lahan sawah agar daerah tersebut mampu memenuhi kebutuhan beras secara mandiri sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Wilayah yang dikenal sebagai “Bumi Etam” kini tidak hanya mengandalkan sumber daya alam dari sektor tambang, tetapi juga mulai menaruh perhatian besar terhadap peningkatan produksi padi. Harapan untuk mencapai swasembada beras pada penghujung 2026 semakin menguat seiring berbagai program yang dijalankan pemerintah daerah bersama pemerintah pusat.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menyampaikan bahwa produksi padi di daerahnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Kalimantan Timur (Kaltim) sudah mengalami peningkatan produksi padi sangat berarti. Saat ini capaian swasembada sudah lebih dari 60 persen. Kami bertekad kuat agar pada akhir 2026 angka ini menjadi seratus persen penuh,” ujar Seno Aji di Samarinda pada pekan kedua Juli.

Meski menunjukkan perkembangan positif, Kalimantan Timur masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan beras masyarakat. Kebutuhan beras setiap tahun diperkirakan mencapai sekitar 350 ribu ton atau setara dengan 600 ribu ton gabah kering giling (GKG). Hingga kini, sebagian kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi gabah kering giling Kalimantan Timur saat ini mencapai sekitar 270.867 ton. Setelah melalui proses penggilingan, jumlah tersebut menghasilkan kurang lebih 157 ribu ton beras. Dengan demikian, daerah ini masih memerlukan tambahan sekitar 192 ribu ton beras yang selama ini dipasok dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berupaya mengurangi ketergantungan terhadap daerah lain melalui berbagai langkah strategis. Fokus utama diarahkan pada perluasan areal persawahan, perbaikan sistem irigasi, serta penerapan teknologi pertanian yang lebih modern dan efisien.

Saat ini, luas lahan sawah yang tercatat di Kalimantan Timur mencapai sekitar 46 ribu hektare. Namun, lahan yang benar-benar aktif digunakan untuk budidaya padi baru sekitar 31 ribu hektare. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan pembukaan sawah baru seluas 2.300 hektare serta rehabilitasi dan optimalisasi sekitar 12.800 hektare lahan yang telah tersedia.

Dengan target tersebut, luas sawah aktif diperkirakan bertambah sekitar 15 ribu hektare. Pengembangan itu akan difokuskan di enam daerah sentra pertanian, yakni Kabupaten Kutai Kartanegara, Paser, Penajam Paser Utara, Berau, Kutai Timur, dan Kutai Barat.

Pengembangan sawah di Kalimantan Timur memiliki tantangan tersendiri. Karakteristik tanah yang cenderung asam dan memiliki tingkat kesuburan lebih rendah dibandingkan tanah vulkanik di Pulau Jawa membuat pengelolaan lahan memerlukan teknologi dan pendampingan yang lebih baik.

Menurut Seno Aji, penyediaan alat dan mesin pertanian menjadi kewenangan Kementerian Pertanian. Pemerintah daerah berperan menginventarisasi kebutuhan petani dan menyampaikan usulan tersebut kepada pemerintah pusat.

“Tugas kita menjembatani kebutuhan kelompok tani agar sampai ke Menteri Pertanian,” ujarnya.

Ia optimistis target pemerintah pusat dapat dicapai. Kementerian Pertanian menargetkan Kalimantan Timur memiliki sedikitnya 65 ribu hektare sawah aktif dengan produktivitas mencapai lima ton beras per hektare serta dua kali masa panen setiap tahun.

Apabila target tersebut berhasil diwujudkan, Kalimantan Timur tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan beras sendiri, tetapi juga berpotensi menghasilkan surplus yang dapat dipasarkan ke daerah lain.

Transformasi sektor pertanian juga menyasar pengembangan sumber daya manusia. Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur membentuk 70 Brigade Pangan yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

Setiap Brigade Pangan terdiri atas 15 anggota yang seluruhnya merupakan generasi muda asal Kalimantan Timur. Kehadiran mereka diharapkan mampu membawa perubahan dalam pengelolaan pertanian melalui pemanfaatan teknologi modern.

Kepala DPTPH Kalimantan Timur, Fahmi Himawan, menilai regenerasi petani menjadi faktor penting dalam pembangunan pertanian masa depan.

“Program ini berdiri di atas satu keyakinan: pertanian butuh wajah baru, semangat baru, dan tangan yang terbiasa dengan teknologi baru,” ujarnya.

Para anggota Brigade Pangan memperoleh pelatihan penggunaan alat dan mesin pertanian modern. Mereka juga memanfaatkan drone untuk penyebaran benih, pemantauan kondisi tanaman, hingga membantu proses pemupukan dan penyemprotan secara lebih akurat.

Pemerintah daerah berharap modernisasi tersebut mampu mengubah pandangan generasi muda terhadap sektor pertanian. Bertani tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan tradisional semata, melainkan sebagai profesi yang memanfaatkan teknologi dan memiliki prospek yang menjanjikan.

Salah satu contoh keberhasilan penerapan teknologi terlihat di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Di wilayah tersebut, Paimin bersama 22 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Suka Maju mengelola sekitar 23 hektare sawah tadah hujan.

Sebelumnya, produktivitas lahan mereka berkisar antara tiga hingga empat ton gabah kering giling per hektare dengan dua kali panen setiap tahun. Setelah memperoleh pendampingan dari Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur melalui penerapan sistem pertanian berkelanjutan berinput rendah, hasil panen meningkat menjadi rata-rata 6,2 ton per hektare atau naik sekitar 74 persen.

“Kami kini memakai drone untuk penyemprotan. Tiga anak muda di sini sudah dilatih dan bersertifikat menjadi operatornya. Semua berjalan lebih cepat, lebih hemat biaya, dan tanaman tumbuh lebih sehat,” kata Paimin.

Program tersebut memadukan teknologi pertanian presisi dengan pengelolaan lahan yang memperhatikan keseimbangan ekosistem. Penggunaan pupuk dilakukan secara lebih efisien sehingga kesuburan tanah tetap terjaga.

Hasilnya, Gapoktan Citarum Tenggarong mampu menghasilkan sekitar 5,3 ton GKG per hektare, sedangkan Gapoktan Suka Maju mencapai produktivitas hingga 7,23 ton GKG per hektare.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Bayuadi Hardiyanto, menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi padi, tetapi juga membangun sistem pertanian yang berkelanjutan.

Selain memberikan dukungan berupa teknologi, Bank Indonesia juga membantu penyediaan sumur bor sebagai sumber air saat musim kemarau, pembangunan kandang ternak untuk menghasilkan pupuk organik, serta pendampingan pengelolaan usaha tani.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, Bank Indonesia, dan para petani kini mulai diterapkan di sejumlah wilayah lain, seperti Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Timur, Kutai Barat, hingga Mahakam Ulu. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat tercapainya target swasembada beras Kalimantan Timur pada akhir 2026 sekaligus memperkuat ketahanan pangan di daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *