Scroll untuk baca artikel
Example floating
Nasional

Sutrah dalam Shalat: Fungsi, Contoh Penataan Sutrah di Dalam Masjid

Avatar photo
288
×

Sutrah dalam Shalat: Fungsi, Contoh Penataan Sutrah di Dalam Masjid

Sebarkan artikel ini

MEGASUARA.com – Jakarta, Dalam ajaran Islam, shalat tidak hanya menuntut ketepatan bacaan dan gerakan, tetapi juga kekhusyukan. Salah satu hal yang sering luput dari perhatian umat Muslim adalah penggunaan sutrah, yaitu pembatas yang diletakkan di depan orang yang sedang shalat.

Secara bahasa, sutrah berarti penutup atau penghalang. Sementara secara istilah, sutrah dimaknai sebagai sesuatu yang diletakkan di hadapan orang yang shalat untuk mencegah orang lain melintas di depannya serta menjaga konsentrasi dan kekhusyukan ibadah.

Iklan - scroll kebawah untuk melanjutkan

Beragam Bentuk Sutrah

Dalam berbagai riwayat hadis, Rasulullah SAW mencontohkan penggunaan sutrah dengan beragam bentuk. Sutrah tidak harus berupa benda khusus, melainkan apa saja yang dapat berfungsi sebagai pembatas. Di antaranya adalah tombak atau tongkat, tiang masjid, pohon, hingga hewan tunggangan ketika sedang bepergian.

Bahkan, dalam kondisi tertentu ketika tidak menemukan benda apa pun, sebagian ulama membolehkan membuat garis di tanah sebagai sutrah. Meski demikian, pendapat mengenai penggunaan garis ini masih menjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama.

Jarak dan Ukuran Sutrah

Para ulama sepakat bahwa jarak antara orang yang shalat dengan sutrah sebaiknya tidak terlalu jauh. Umumnya, jarak yang dianjurkan sekitar tiga hasta atau sekadar cukup ruang untuk bersujud. Adapun tinggi sutrah tidak ditentukan secara kaku, namun minimal setinggi bagian belakang pelana unta, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi SAW.

Larangan Melintas di Depan Orang Shalat

Islam memberikan perhatian besar terhadap adab shalat. Melintas di depan orang yang sedang shalat tanpa sutrah sangat dilarang, karena dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Bahkan, Rasulullah SAW menganjurkan orang yang sedang shalat untuk mencegah siapa pun yang berusaha melintas di depannya apabila ia telah memasang sutrah.

Namun demikian, para ulama menegaskan bahwa pencegahan tersebut dilakukan dengan cara yang lembut dan proporsional, seperti memberi isyarat tangan, tanpa menimbulkan mudarat.

Pentingnya Sutrah dalam Kehidupan Sehari-hari

Penggunaan sutrah bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari sunnah Nabi SAW yang sarat makna. Sutrah berfungsi menjaga kekhusyukan shalat, menghormati orang yang sedang bermunajat kepada Allah, serta menciptakan keteraturan dan adab di ruang ibadah.

Di masa kini, sutrah dapat berupa benda sederhana seperti kursi, tas, tongkat, atau tiang masjid. Yang terpenting, benda tersebut mampu menjadi pembatas yang jelas.

Dengan memahami dan mengamalkan sunnah ini, diharapkan umat Islam dapat menjalankan shalat dengan lebih tenang, khusyuk, dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.