Megasuara.com – Jakarta, Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional kembali menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memberikan susu formula kepada bayi usia 0 sampai 6 bulan. Kebijakan itu muncul untuk menjaga komitmen pemberian ASI eksklusif bagi bayi pada masa awal pertumbuhan. Pemerintah juga menilai ASI tetap menjadi sumber nutrisi utama yang paling aman dan paling lengkap untuk bayi dalam rentang usia tersebut. Pernyataan itu sekaligus menjawab berbagai spekulasi publik mengenai kemungkinan distribusi susu formula dalam program MBG nasional.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menekankan bahwa pemerintah tidak ingin program pemenuhan gizi justru mengurangi budaya menyusui di tengah masyarakat. Ia menyebut pemberian ASI eksklusif sampai usia enam bulan masih menjadi prioritas utama dalam kebijakan kesehatan nasional. Pemerintah juga terus mendorong para ibu untuk melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia dua tahun dengan pendampingan makanan bergizi sesuai kebutuhan tumbuh kembang anak.
BGN menjelaskan bahwa program MBG lebih fokus pada pemenuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, anak sekolah, dan kelompok rentan lainnya. Pemerintah menilai peningkatan kualitas gizi ibu menyusui dapat membantu produksi ASI yang lebih baik untuk bayi. Karena itu, program MBG tidak hanya menyalurkan makanan bergizi kepada anak sekolah, tetapi juga memperhatikan kebutuhan gizi keluarga secara menyeluruh. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Meski demikian, pemerintah tetap membuka kemungkinan penggunaan susu formula lanjutan dalam kondisi tertentu. BGN menyatakan tenaga kesehatan dapat memberikan rekomendasi khusus apabila bayi atau balita mengalami masalah kesehatan tertentu yang membutuhkan tambahan nutrisi. Namun, pemerintah menegaskan keputusan tersebut harus melalui pemeriksaan medis dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Langkah itu bertujuan menjaga keselamatan bayi sekaligus memastikan penggunaan susu formula tetap sesuai kebutuhan medis.
Sejumlah organisasi kesehatan anak juga ikut memberikan perhatian terhadap polemik susu formula dalam program MBG. Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI mengingatkan pentingnya menjaga praktik ASI eksklusif untuk bayi usia dini. Organisasi tersebut meminta pemerintah tetap berhati-hati dalam menyusun kebijakan distribusi nutrisi bagi bayi dan balita. Para dokter anak menilai pemberian susu formula tanpa pengawasan medis dapat memengaruhi keberhasilan menyusui di masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat sempat memunculkan berbagai pertanyaan setelah muncul informasi mengenai susu dalam program MBG. Sebagian warga mengira pemerintah akan mengganti ASI dengan susu formula bagi bayi kecil. BGN langsung memberikan klarifikasi untuk menghindari kesalahpahaman yang lebih luas. Pemerintah memastikan program MBG tidak bertujuan menggantikan ASI, melainkan mendukung pemenuhan gizi masyarakat secara menyeluruh.
Pemerintah juga terus memperkuat sistem pengawasan dalam pelaksanaan program MBG di berbagai daerah. BGN menargetkan peningkatan kualitas distribusi makanan, keamanan pangan, serta pengawasan standar gizi selama program berjalan. Langkah itu dilakukan agar setiap penerima manfaat memperoleh makanan yang aman dan sesuai kebutuhan nutrisi. Pemerintah berharap kualitas pelaksanaan program terus meningkat dari tahun ke tahun.














