Scroll untuk baca artikel
Example floating
BeritaNasional

Pesawat ATR 42-500 Diduga Tabrak Lereng Gunung Bulusaraung, KNKT: Serpihan Ditemukan di Medan Terjal

183
×

Pesawat ATR 42-500 Diduga Tabrak Lereng Gunung Bulusaraung, KNKT: Serpihan Ditemukan di Medan Terjal

Sebarkan artikel ini

Megasuara.com – Makassar, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan hasil awal investigasi terkait kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di wilayah Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1/2026). Berdasarkan temuan di lokasi, KNKT meyakini pesawat tersebut menghantam lereng Gunung Bulusaraung, sehingga menyebabkan badan pesawat terpecah menjadi beberapa bagian.

Ketika konferensi pers di Bandara Sultan Hasanuddin, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan bahwa insiden ini kemungkinan termasuk Controlled Flight Into Terrain (CFIT) — di mana pesawat dalam kendali pilot namun mengenai permukaan tanah atau gunung tanpa disengaja. Serpihan pesawat ditemukan di ketinggian yang sulit dijangkau, menggambarkan benturan kuat dengan medan terjal.

Iklan - scroll kebawah untuk melanjutkan

“Dugaan sementara pesawat telah menabrak lereng bukit atau gunung sebelum akhirnya pecah,” ujar Soerjanto, sembari menjelaskan bahwa penyebab pastinya masih dalam penyelidikan lanjutan.

Puing dan SAR di Lokasi

Tim SAR gabungan telah menemukan berbagai bagian pesawat termasuk badan utama dan ekor yang terpisah di area utara puncak Bulusaraung. Foto-foto yang beredar menunjukkan serpihan jendela yang penyok dan material lain berserakan di antara semak dan batuan.

Cuaca di kawasan tersebut yang berkabut dan topografi yang curam memperlambat proses evakuasi dan pencarian. Tim dari Basarnas, TNI AU, serta relawan terus bekerja di medan berat untuk menemukan korban dan alat perekam penerbangan (black box).

Belum Ada Kepastian Penyebab Utama

Meski terdapat indikasi kuat soal tabrakan dengan lereng gunung, KNKT menegaskan penyebab pasti kecelakaan belum bisa dipastikan. Investigasi masih berlanjut, termasuk pemeriksaan dokumen teknis pesawat, percakapan dengan pengendali lalu lintas udara, dan data penerbangan.

Sementara itu, sejumlah pihak menyatakan bahwa alat Emergency Locator Transmitter (ELT) kemungkinan tidak berfungsi akibat benturan kuat, sehingga sinyal darurat tidak tersampaikan kepada tim pencari.

Operasi pencarian kini difokuskan pada evakuasi korban dan upaya menemukan black box untuk membantu menjawab pertanyaan krusial terkait penyebab tragedi ini, termasuk kemungkinan faktor cuaca dan teknis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *